Jakarta – Nilai tukar rupiah ditutup melemah 37 poin atau 0,21 persen ke level Rp17.762 per dolar AS pada perdagangan Rabu (18/6/2026), dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.725 per dolar AS. Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya kehati-hatian investor yang menanti hasil keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) serta perkembangan terbaru terkait kondisi geopolitik di Timur Tengah. Pelaku pasar juga mencermati potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang diharapkan dapat meredakan ketegangan kawasan dan menjaga stabilitas pasokan energi global.
Selain sentimen geopolitik, perhatian investor tertuju pada hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan. Meski demikian, pasar akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru serta sinyal kebijakan moneter The Fed ke depan, termasuk peluang penurunan suku bunga pada akhir tahun. Ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter AS membuat pergerakan dolar AS tetap kuat dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, pasar juga menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang berlangsung pada 17-18 Juni 2026. Langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan suku bunga menjadi perhatian utama investor. Di sisi lain, Indonesia dinilai memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap risiko gangguan pasokan energi global berkat strategi diversifikasi impor minyak dari berbagai negara. Untuk perdagangan berikutnya, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan potensi berada di kisaran Rp17.760 hingga Rp17.800 per dolar AS. Dikutip dari Antaranews.com















