Jakarta – Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Hendry Cahyono menilai kebijakan penyesuaian harga BBM jenis Pertamax sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor serta stabilitas keuangan perusahaan. Hendry menjelaskan bahwa langkah penyesuaian ini sulit dihindari setelah Pertamina menahan harga jual BBM nonsubsidi di bawah harga keekonomian dalam beberapa bulan terakhir menggunakan dana talangan. Namun, ruang untuk mempertahankan kebijakan tersebut makin sempit seiring dengan terus melonjaknya harga minyak mentah dunia dan pergerakan kurs rupiah.
Menurut Hendry, jika Pertamina terus-menerus menanggung selisih harga tanpa adanya penyesuaian, kondisi tersebut berisiko menggerus keuntungan perusahaan. Dampak negatifnya tidak hanya berimbas pada setoran dividen kepada negara, tetapi juga merusak persepsi investor serta lembaga pemeringkat terhadap kinerja keuangan Pertamina. Mengingat Pertamax merupakan BBM nonsubsidi yang murni mengikuti mekanisme pasar tanpa sokongan APBN, penyesuaian harga menjadi instrumen logis agar iklim investasi tetap sehat dan menarik di mata investor.
Akibat penyesuaian ini, harga BBM Pertamax (RON 92) kini berubah dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green (RON 95) naik menjadi Rp17.000 per liter. Menanggapi hal tersebut, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menegaskan bahwa langkah ini sudah sesuai dengan regulasi yang berlaku. Penyesuaian harga BBM nonsubsidi ini merupakan bagian dari tata kelola energi nasional demi menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis perusahaan dan kepastian pasokan energi bagi masyarakat. Dikutip dari Antaranews.com















