Jakarta – Nilai tukar rupiah menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan akhir pekan, naik 0,03 persen atau 5 poin ke posisi Rp16.648 per dolar AS. Penguatan ini dipengaruhi oleh rilis data cadangan devisa Indonesia dari Bank Indonesia (BI) per akhir November 2025, yang tercatat sebesar USD150,1 miliar, meningkat dari USD149,9 miliar pada Oktober 2025.
Menurut Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi, kenaikan cadangan devisa terutama bersumber dari penerimaan pajak, jasa, dan penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. Posisi cadangan devisa yang meningkat diyakini mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, menjaga stabilitas makroekonomi, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Di pasar global, dolar AS justru menguat karena keyakinan investor terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh The Fed. Data tenaga kerja AS mendukung sentimen ini, dengan klaim pengangguran mingguan turun tajam menjadi 191.000, level terendah sejak September 2022, sementara laporan penggajian sektor swasta menunjukkan perusahaan memangkas 32.000 pekerjaan, menandakan melemahnya perekrutan tenaga kerja pada November. Investor kini menantikan rilis data inflasi belanja konsumsi pribadi (PCE) AS yang akan menjadi acuan kebijakan bank sentral pada pertemuan mendatang.
Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik turut memengaruhi pergerakan rupiah. Serangan Ukraina ke infrastruktur energi Rusia berpotensi mengganggu pasokan energi global. Sementara itu, pasar juga mencermati potensi tindakan militer Amerika Serikat terhadap Venezuela, terkait upaya pemberantasan jaringan pengedar narkoba, seperti yang disampaikan Presiden Trump akhir pekan lalu.
Ibrahim menyebut kombinasi faktor domestik dan global tersebut menjadi pendorong utama volatilitas rupiah, sehingga pelaku pasar tetap berhati-hati dalam mengambil posisi menjelang rilis data ekonomi penting dan perkembangan geopolitik. Dikutip dari RRI.co.id















