MAKASSAR – Bagi warga Makassar dan Gowa, kemacetan parah di Kawasan Barombong bukan lagi sekadar hambatan perjalanan, melainkan ujian kesabaran harian. Namun, tumpukan kendaraan ini tak boleh terus dianggap hal lumrah. Di balik antrean panjang yang mengular, tersembunyi risiko keselamatan yang meningkat akibat tingginya tingkat kelelahan dan emosi para pengendara.
Memaknai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dengan aksi nyata, Forum LLAJ Kota Makassar menggelar Forum Optimalisasi Manajemen Lalu Lintas Terpadu pada Rabu, 12 Agustus 2026. Sebanyak 60 pemangku kepentingan—mulai dari Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Selatan, PT Jasa Raharja (Persero) Wilayah Sulawesi Selatan, pihak Kepolisian, Kejaksaan, Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), hingga tokoh masyarakat—duduk bersama merumuskan rekayasa lalu lintas terpadu di titik krusial Barombong.
Langkah strategis yang disepakati dalam pertemuan tersebut dirancang bukan hanya demi memperlancar arus kendaraan, melainkan sebagai upaya menyelamatkan jiwa dan menghadirkan mobilitas yang aman. Pembentukan jalan berkeselamatan menjadi fokus utama agar kenyamanan seluruh pengguna jalan dapat terwujud secara berkelanjutan.
Upaya penataan terpadu ini membutuhkan dukungan penuh dari masyarakat. Kesadaran untuk saling mengalah, mengutamakan keselamatan, dan mematuhi aturan lalu lintas menjadi kunci utama keberhasilan rekayasa ini. Sebab, jalan raya yang aman, tertib, dan bebas dari kemacetan adalah hak sekaligus tanggung jawab bersama.















