Sensasi kaget yang menyenangkan saat bermain cilukba di masa kecil kini hadir dalam wujud yang berbeda. Melalui pameran seni rupa dan boneka bertajuk CILUKBA!, para seniman muda menyalurkan kembali memori universal itu menjadi pengalaman visual, performatif, dan penuh makna.
Digelar di Punk Ala Rich, cabang terbaru dari Claywon Market, pameran ini menjadi bagian dari upaya membuka ruang-ruang alternatif bagi seniman untuk berkarya, terutama di wilayah utara Yogyakarta. Avis Haris, founder Punk Ala Rich sekaligus inisiator pameran, menjelaskan bahwa CILUKBA! bukan sekadar ruang pamer, melainkan ruang tantangan bagi seniman untuk tetap berproses dalam batas tematik tertentu.
“Jadi aku memang menyiapkan ruang-ruang ini biar teman-teman seniman bisa mengekspos karyanya. Tapi karena kami punya tema sendiri dengan brandnya yaitu tentang horror, komedi, kebudayaan, dan sejarah, jadi ketika teman-teman pengen show of karyanya dan juga ada sebuah challenge juga. Bisa nggak teman-teman membuat sebuah karya yang tetap tematik,” ujar Avis.
Tema besar CILUKBA! kali ini adalah “Ritual”, merujuk pada proses personal yang dijalani para seniman dalam mencipta karya. Menurut Avis, setiap seniman memiliki ritual sendiri dalam proses kreatifnya, dan hal itu diterjemahkan ke dalam bentuk visual maupun performatif di pameran ini.
Sebanyak 12 seniman ikut berpartisipasi, menghadirkan sekitar 15 karya yang mencakup seni rupa dan puppet art. Beberapa karya bahkan disajikan dalam bentuk pertunjukan interaktif, memungkinkan pengunjung tidak hanya melihat, tapi juga mengalami karya tersebut secara langsung.
Selain pameran utama, CILUKBA! juga menghadirkan rangkaian workshop tematik yang berhubungan dengan ritual dan kebudayaan. Melalui wadah kuratorial Punk Art Lab, program ini berupaya merangkul komunitas-komunitas seni agar lebih terorganisir dan saling mendukung.
“Jadi CILUKBA! punya tema ritual. Nah, nanti di bawahnya kami sebagai Punk Ala Rich nya nanti menyiapkan workshop-workshop yang tidak langsung berkaitan dengan eventnya tapi berkaitan dengan temanya. Misalnya kemarin baru aja terlaksana workshop dupa, lalu nanti ada beberapa di tanggal 6 atau 10 itu ada workshop gantungan kunci atau ngerajut tapi tetap sesuai temanya,” ujar Avis.
CILUKBA! sendiri merupakan lanjutan dari program eksibisi reguler di Pangalaris yang berfokus pada tema horor, komedi, kebudayaan, dan sejarah. Melalui pendekatan itu, pameran ini tidak hanya menjadi ajang nostalgia masa kecil, tetapi juga refleksi terhadap pengalaman emosional dan sosial masyarakat Indonesia, di mana ketakutan dan humor sering berjalan beriringan.
Dibuka pada 31 Oktober bertepatan dengan Halloween, pameran ini akan berlangsung hingga 30 November 2025. Rangkaian acara penutupan dijadwalkan menampilkan pertunjukan spesial serta ritual penutup. Pengunjung dapat menikmati karya sejak jam operasional tempat, namun Avis menyarankan untuk datang menjelang malam agar pengalaman “kaget yang aman” itu terasa lebih hidup.
“Kalau mau dapet experience-nya, datang saat mulai gelap, jam enam atau menuju tengah malam. Karena di situ sensasinya muncul,” katanya.
Melalui CILUKBA!, seni tidak hanya menjadi tontonan, melainkan juga pengalaman. Ia mengajak kita menelusuri kembali sisi kanak-kanak yang polos namun penuh rasa ingin tahu. Sebuah perayaan kecil antara tawa, horor, dan keindahan dalam keseharian. Dikutip dari RRI.co.id











