JAKARTA – Sinergi antara investasi fisik di sektor riil dan likuiditas pasar modal menjadi kunci utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian global 2026. Ekonom Senior Indonesia, Raden Pardede, menyatakan bahwa pertumbuhan sektor riil yang pesat akan memperkuat fundamental para emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI), sehingga mampu memberikan imbal hasil (return) terbaik bagi para investor. Langkah strategis ini tercermin dari aksi Initial Public Offering (IPO) dua emiten baru, yaitu PT Niramas Utama Tbk (JELI) di sektor makanan dan minuman, serta PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) di sektor kesehatan, yang membuktikan ketangguhan iklim investasi domestik.
Potensi penguatan pasar modal Indonesia saat ini didukung penuh oleh struktur demografi yang kuat, khususnya dari generasi Z yang bertindak sebagai digital native. Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), lebih dari 54 persen investor pasar modal di Indonesia kini berusia di bawah 30 tahun, ditopang oleh tingginya penetrasi internet yang mencapai 213 juta pengguna aktif. Dominasi investor muda ini menjadi modal besar untuk menjaga likuiditas pasar, sekaligus menyerap potensi besar dari Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang terus tumbuh signifikan di sektor-sektor strategis.
Untuk menjaga momentum positif ini, pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) berkomitmen penuh melakukan reformasi tata kelola dan transparansi pasar. Langkah ini diambil guna memperkuat integritas pasar, menjaga kepercayaan investor, serta membangun industri pasar modal yang lebih inklusif dan berdaya saing global. Melalui kolaborasi tersebut, seluruh pelaku pasar diharapkan dapat terus mendorong hilirisasi ekonomi dan menjadikan bursa saham sebagai episentrum utama pertumbuhan ekonomi nasional. Dikutip dari Antaranews.com















