Penyebab Rupiah Fluktuatif: Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak Bayangi Mata Uang Garuda

Penyebab Rupiah Fluktuatif: Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak Bayangi Mata Uang Garuda

JAKARTA – Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Rabu (1/4/2026) menguat 58 poin atau 0,34 persen ke posisi Rp16.983 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.041 per dolar AS. Meski menguat di pasar spot, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia justru tercatat sedikit melemah ke level Rp17.002 per dolar AS. Pergerakan yang tidak seragam ini menunjukkan kondisi nilai tukar yang masih sangat fluktuatif di tengah tingginya tekanan pasar keuangan internasional.

Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, menjelaskan bahwa fluktuasi rupiah saat ini didominasi oleh faktor eksternal, terutama ketidakpastian pasar global dan lonjakan harga minyak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Kondisi geopolitik tersebut mendorong investor untuk mengalihkan dana mereka ke aset yang lebih aman (safe haven), yang pada gilirannya menekan mata uang negara berkembang (emerging markets). Selain itu, ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed dan rilis data ekonomi Amerika Serikat tetap menjadi sentimen utama yang diperhatikan pasar.

Dari sisi domestik, Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas likuiditas valas melalui instrumen Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia (SUVBI). Walaupun langkah-langkah BI tersebut membantu meredam gejolak, dinamika global diprediksi masih akan menjadi faktor penentu utama arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek. Pasar diimbau tetap waspada mengingat ketergantungan nilai tukar terhadap sentimen ekonomi makro AS masih cukup tinggi. Dikutip dari Antaranews.com