10 Kuliner Legendaris Semarang yang Wajib Dikunjungi, dari Lumpia hingga Asem-asem Koh Liem

10 Kuliner Legendaris Semarang yang Wajib Dikunjungi, dari Lumpia hingga Asem-asem Koh Liem

Di antara hiruk-pikuk kendaraan dari Simpang Lima menuju Kota Lama, aroma masakan menggoda tercium dari berbagai sudut kota. Kuliner Semarang bukan sekadar pemuas selera, melainkan kisah panjang tentang tradisi, warisan budaya, dan ketekunan warga yang mempertahankan cita rasa selama puluhan tahun.

Sebagai ibu kota Jawa Tengah, Semarang menyimpan banyak kuliner legendaris yang menjadi kebanggaan warganya. Sebagian merupakan warisan lintas generasi, sementara lainnya berkembang menjadi ikon pariwisata kuliner yang wajib dicoba.

Berikut 10 kuliner legendaris Semarang yang wajib dikunjungi di Kota Atlas:


1. Lumpia Gang Lombok, Ikon Kuliner Semarang yang Melegenda

Kunjungan ke Semarang terasa kurang lengkap tanpa mencicipi lumpia. Lumpia Gang Lombok diyakini sebagai tempat kelahiran lumpia legendaris kota ini. Berdiri di kawasan Pecinan, tepatnya di Jalan Gang Lombok Nomor 11, gang sempit ini menjadi saksi sejarah kuliner yang telah bertahan lebih dari seabad.

Perpaduan isian rebung muda gurih dengan udang atau ayam, dibungkus kulit tipis yang renyah, mencerminkan harmoni budaya Tionghoa dan Jawa. Sejak pagi, antrean pengunjung sudah mengular — banyak wisatawan rela datang jauh-jauh untuk mencicipi lumpia yang digoreng langsung di depan mata.


2. Loenpia Mbak Lien, Sentuhan Modern pada Cita Rasa Klasik

Masih tentang lumpia, Loenpia Mbak Lien di Gang Grajen, Jalan Pemuda, menawarkan variasi modern seperti isi kepiting, jamur, dan udang spesial. Meski ada inovasi, cita rasa tradisional tetap terjaga.

Kedai ini dikelola oleh generasi penerus keluarga pembuat lumpia yang mempertahankan resep sejak masa kolonial. Suasana hangat dan aroma menggugah selera menjadikannya destinasi favorit wisatawan lokal maupun mancanegara.


3. Tahu Gimbal Pak Man, Legenda Kuliner Rakyat Semarang

Terletak di Jalan Plampitan Nomor 54, warung sederhana “Tahu Gimbal Lumayan Pak Man” menjadi legenda kuliner rakyat Semarang. Hidangan ini terdiri dari tahu goreng, lontong, tauge, dan gimbal udang goreng tepung yang disiram bumbu kacang bercampur petis khas.

Keistimewaannya terletak pada saus kacang yang dibuat segar setiap hari dan gimbal renyah yang selalu hangat. Warung ini buka siang hari dan sering tutup lebih cepat karena stok cepat habis.


4. Soto Bangkong, Cita Rasa Klasik Sejak 1950-an

Kawasan Bangkong dikenal bukan hanya karena lalu lintasnya yang padat, tetapi juga karena Soto Bangkong yang berdiri sejak tahun 1950-an. Kuah bening gurih dengan potongan ayam kampung, tauge, dan bawang goreng menjadikan soto ini begitu khas.

Meski kini memiliki banyak cabang, cita rasanya tetap sama. Bahkan, banyak pejabat dan tokoh nasional yang selalu singgah ke sini saat berkunjung ke Semarang.


5. Wingko Babat Cap Kereta Api, Oleh-oleh Legendaris Kota Lama

Di kawasan Kota Lama, aroma manis kelapa panggang menyeruak dari toko Wingko Babat Cap Kereta Api di Jalan Cendrawasih Nomor 14. Kue tradisional berbahan kelapa, gula, dan ketan ini menjadi oleh-oleh wajib wisatawan.

Nama “Cap Kereta Api” berasal dari lokasinya yang dulu berdekatan dengan Stasiun Tawang, sehingga mudah dikenal penumpang kereta. Hingga kini, proses pemanggangan tradisional menggunakan bara arang masih dipertahankan.


6. Bandeng Presto Juwana, Oleh-oleh Favorit Wisatawan

Bandeng Presto Juwana Elrina di Jalan Pandanaran Nomor 57 menjadi kebanggaan kuliner Semarang berikutnya. Bandeng presto tulang lunak ini empuk dengan aroma rempah yang kuat.

Sebagai pionir bandeng presto kemasan, toko ini juga menjual aneka camilan khas Semarang.

“Kunci keempukan ada pada proses presto yang tepat dan pemilihan bandeng segar,” jelas pemilik Bandeng Juwana, Jumat (7/11/2025).


7. Mi Kopyok Pak Dhuwur, Kuliner Sederhana Penuh Cita Rasa

Tak jauh dari Stasiun Poncol, warung Mi Kopyok Pak Dhuwur di Jalan Tanjung Nomor 18A menyajikan mi kuning, tahu goreng, tauge, lontong, dan kerupuk gendar dalam kuah bawang hangat. Rasa ringan dan segarnya cocok disantap saat sarapan.

Kesederhanaan menjadi daya tarik utama warung yang telah beroperasi selama puluhan tahun ini. Pengunjung setia terdiri dari pekerja kantoran dan mahasiswa.


8. Tahu Pong Karangsaru, Camilan Kopong yang Renyah

Untuk camilan sore, Tahu Pong Karangsaru di Jalan Pringgading Raya Nomor 11D menyajikan tahu kopong renyah yang disajikan dengan acar lobak dan sambal kecap pedas. Warung yang berdiri sejak tahun 1949 ini kini dikelola oleh generasi ketiga.

“Tekstur kopong didapat dari teknik penggorengan khusus yang telah turun-temurun,” tutur pengelola.

Nuansa klasik dan suasana nostalgia menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.


9. Nasi Gandul Pak Memet, Hangat dan Gurih di Malam Hari

Meski berasal dari Pati, nasi gandul telah menjadi bagian penting kuliner Semarang. Nasi Gandul Pak Memet di Jalan Dr. Cipto Nomor 12 terkenal dengan kuah kental manis-gurih berpadu potongan daging sapi empuk dan aroma rempah yang kuat.

Warung sederhana ini buka sore hingga malam dan menjadi tempat favorit untuk makan malam. Semangkuk nasi gandul hangat cocok dinikmati di tengah udara malam Semarang yang sejuk.


10. Asem-asem Koh Liem, Perpaduan Rasa Jawa dan Tionghoa

Terakhir, Asem-asem Koh Liem di Jalan Karang Anyar Nomor 28 menyajikan asem-asem daging dengan perpaduan cita rasa manis ala Jawa dan asam segar ala Tionghoa. Kuah bening, potongan daging sapi lembut, dan aroma bawang putih menjadi ciri khas yang menggugah selera.

Warung ini sudah berdiri puluhan tahun dan kini dikelola oleh generasi penerus. Hingga kini, Asem-asem Koh Liem selalu ramai dikunjungi warga lokal maupun wisatawan yang mencari rasa rumahan otentik.


Warisan Kuliner Semarang yang Tak Lekang Waktu

Kuliner Semarang adalah tentang kenangan, ketulusan, dan warisan cita rasa yang terus dijaga oleh para peraciknya. Di setiap suapan tersimpan kisah perjuangan menjaga rasa di tengah arus modernisasi.

Setiap kunjungan ke Semarang bagaikan perjalanan waktu melalui cita rasa legendaris, mengingatkan kita pada kehangatan dan keautentikan kuliner Nusantara. Dikutip dari metrotvnews.com