Jakarta – Para sopir truk di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, mengeluhkan kendala distribusi akibat tumpukan sampah yang menggunung di area pasar. Aden (27), salah satu sopir logistik, mengungkapkan bahwa durasi bongkar muat sayur-mayur kini membengkak hingga lima jam, jauh lebih lama dari durasi normal yang biasanya hanya dua jam. Kondisi ini disebabkan oleh penyempitan akses jalan akibat aktivitas alat berat (ekskavator) dan antrean truk sampah yang memakan sebagian badan jalan, sehingga mobilitas kendaraan pengangkut barang menjadi tersendat dan sempit.
Keterlambatan ini memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi kerja dan biaya operasional para sopir. Aden bahkan mengeluhkan bahwa waktu tunggu di dalam pasar kini lebih lama dibandingkan durasi perjalanan dari Bandung ke Jakarta. Situasi ini memaksa sopir mengeluarkan biaya tambahan untuk konsumsi dan bahan bakar selama mengantre. Mereka berharap pengelola pasar segera menuntaskan masalah sampah ini agar alur distribusi logistik kembali normal dan tidak merugikan para pekerja lapangan yang bergantung pada kecepatan perputaran barang.
Tidak hanya sopir, para pedagang di Pasar Induk Kramat Jati juga merasakan dampak buruk dari tumpukan sampah setinggi enam meter tersebut. Syaeful, salah satu pedagang setempat, mengaku mengalami penurunan omzet hingga 30 persen karena pembeli enggan mendekat ke area lapak yang kotor dan berbau menyengat. Akses parkir yang terhambat oleh gunungan sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) membuat konsumen lebih memilih mencari alternatif tempat belanja lain, yang mengancam keberlangsungan ekonomi para pedagang di pasar induk terbesar di Jakarta tersebut. Dikutip dari Antaranews.com















