Dorong Produksi UMKM Ramah Lingkungan, Jasa Raharja dan IFG Group Resmikan IPAL Batik di Bantul

Dorong Produksi UMKM Ramah Lingkungan, Jasa Raharja dan IFG Group Resmikan IPAL Batik di Bantul

Bantul — Dalam rangka mendukung penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sekaligus mendorong praktik produksi yang ramah lingkungan, Jasa Raharja bersama Indonesia Financial Group (IFG), Jamkrindo, Askrindo, dan Jasindo melaksanakan peresmian Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) batik di sentra produksi Paguyuban Batik Nyawiji, Kelurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, pada Senin, 20 April 2026. Kegiatan peresmian dilaksanakan di Nayantaka Batik sebagai bagian dari komitmen kolaboratif dalam mendukung keberlanjutan industri batik lokal yang berwawasan lingkungan.

Pembangunan fasilitas IPAL tersebut bertujuan untuk mengolah limbah cair yang dihasilkan dari proses pewarnaan dan pencucian batik sebelum dialirkan ke lingkungan. Melalui keberadaan fasilitas ini, sebanyak 60 pengrajin batik yang tergabung dalam Paguyuban Batik Nyawiji, termasuk Nayantaka Batik, diharapkan dapat menjalankan proses produksi secara lebih aman dan bertanggung jawab tanpa mencemari tanah maupun sumber air masyarakat sekitar. Program ini merupakan bagian dari implementasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sebagai wujud nyata dukungan terhadap pengembangan UMKM sekaligus pelestarian lingkungan.

Kepala Departemen Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan IFG, Adrian Wishnu Parangi, menyampaikan bahwa peresmian IPAL batik ini merupakan bentuk komitmen IFG Group dalam mendukung penguatan kapasitas UMKM batik agar mampu berkembang secara berkelanjutan, tidak hanya dari sisi ekonomi tetapi juga dari aspek lingkungan. Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara Jasa Raharja dan IFG Group diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi para pengrajin batik dalam meningkatkan kualitas produksi sekaligus memperkuat daya saing batik lokal di tengah meningkatnya perhatian pasar terhadap produk yang berorientasi pada keberlanjutan.

Kegiatan peresmian ini turut dihadiri oleh Kepala Departemen Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan IFG Adrian Wishnu Parangi, perwakilan Jasa Raharja Kantor Pusat Unggul Yoga Saputra, Pelaksana Administrasi Keuangan, Akuntansi dan TJSL Ari Tomi Wibilaksono, serta Pengelola Nayantaka Batik Tulami. Melalui sinergi antaranggota IFG Group dan para pemangku kepentingan terkait, diharapkan program ini dapat menjadi langkah nyata dalam mendorong terciptanya industri batik yang lebih ramah lingkungan serta berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun global.

Unggul Yoga Saputra selaku perwakilan Jasa Raharja Kantor Pusat menyampaikan bahwa peresmian Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) batik di Kelurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul merupakan bagian dari komitmen Jasa Raharja dalam mendukung pelaksanaan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat serta pelestarian lingkungan. Menurutnya, keberadaan fasilitas IPAL ini diharapkan dapat membantu para pengrajin batik dalam mengelola limbah produksi secara lebih baik sehingga kegiatan usaha tetap berjalan produktif tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan lingkungan.

Lebih lanjut, Unggul Yoga Saputra menegaskan bahwa sinergi antara Jasa Raharja bersama Indonesia Financial Group (IFG), Jamkrindo, Askrindo, dan Jasindo merupakan bentuk kolaborasi nyata dalam memperkuat peran BUMN dalam mendukung pengembangan UMKM, khususnya sektor batik sebagai salah satu warisan budaya nasional yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Ia menyampaikan bahwa dukungan terhadap penyediaan sarana pengolahan limbah ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas proses produksi para pengrajin sekaligus mendorong terciptanya lingkungan usaha yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Ia juga berharap keberadaan IPAL batik di sentra produksi Paguyuban Batik Nyawiji dapat menjadi contoh praktik baik dalam pengelolaan limbah industri skala UMKM yang ramah lingkungan serta dapat direplikasi di wilayah lain. Dengan adanya dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak, diharapkan para pengrajin batik di Bantul semakin meningkat kapasitas usahanya, mampu memperluas akses pasar, serta memiliki daya saing yang lebih kuat di tengah tuntutan pasar terhadap produk yang memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan.