JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau melemah pada perdagangan Rabu pagi sebesar 37 poin atau 0,21 persen ke posisi Rp17.944 per dolar AS. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengungkapkan bahwa lesunya pergerakan rupiah hari ini utamanya dipicu oleh berlanjutnya arus keluar dana asing (capital outflow) di pasar modal domestik. Aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai 58,20 juta dolar AS tersebut bahkan turut menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga merosot 3,05 persen ke level 5.643.
Dari sentimen domestik, pergerakan kurs rupiah hari ini yang diprediksi bergerak di kisaran Rp17.825 hingga Rp17.950 juga dipengaruhi oleh penantian rilis data ekonomi terkini oleh BPS. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Juni 2026 diperkirakan naik menjadi 3,41 persen secara tahunan (yoy), didorong oleh kenaikan biaya transportasi dan harga energi non-subsidi. Di sisi lain, surplus neraca perdagangan Indonesia periode Mei 2026 diproyeksikan melebar menjadi 1,13 miliar dolar AS seiring normalisasi aktivitas impor pasca-Lebaran, meski tren tahunan masih menunjukkan penyempitan surplus secara bertahap.
Sementara itu, ketidakpastian global masih membayangi pasar keuangan seiring berlanjutnya perundingan damai antara AS dan Iran di Doha, Qatar, untuk meredakan ketegangan di Selat Hormuz. Walaupun pemulihan lalu lintas kapal tanker minyak mulai meredam ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang agresif, sikap hawkish dari FOMC tetap kuat. Pasar tenaga kerja AS yang kokoh serta inflasi inti yang masih persisten memperkuat proyeksi bahwa suku bunga tinggi global (higher for longer) akan bertahan lebih lama, sehingga terus memicu tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Dikutip dari Antaranews.com















